Pencemaran Udara Kota Bekasi di Ambang Batas

 
di Posting olehrulam Jan 22, 2012
 

Baca juga artikel ini:

BEKASI – Tingkat pencemaran udara di Kota Bekasi sudah masuk dalam tahap mengkhawatirkan. Diperkirakan, pencemaran udara itu akan semakin parah karena jumlah kendaraan terus bertambah.

Menurut hasil pemeriksaan laboratorium Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi 2010, polusi udara sudah di ambang batas yakni 30.861 µ gram per m3. Sementara ambang batasnya hanya 30.000 µ gram per m3.

Artinya, kandungan karbonmonoksida (CO) yang ada di udara Kota Bekasi sudah di ambang batas. Sedangkan NO2 dan CO2 masih di bawah ambang batas, yakni 400 µ gram per m3 dan 900 µ gram per m3.

Demikian diungkapkan Kepala BPLH Kota Bekasi, Dadang Hidayat, dan Kepala Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Air dan Udara, Zaenal Abidin, kepada SH, Senin (17/10). Pencemaran itu, ungkap Zaenal, akibat asap dari bahan bakar kendaraan, di mana bahan bakar kandungan sulfur yang terlalu tinggi.

Menurut Zaenal, saat ini BPLH Kota Bekasi, sedang memeriksa pencemaran udara di 20 titik. Adapun lokasi pemeriksaan beberapa di antaranya berada di jalan raya.

“Paling parah pencemaran udaranya pada 2010 terdapat di perempatan Kampung Rawapanjang, yakni pertemuan antara Jl Raya Ahmad Yani, Jl Cut Mutiah, Jl RA Kartini, dan Jl Siliwangi Narogong,” kata dia.

Menurut Zaenal, pencemaran yang tinggi di lokasi itu, karena adanya penumpukan kendaraan.

Selain di perempatan Rawapanjang, lokasi yang saat ini menjadi titik pemeriksaan pencemaran udara di Terminal Bus Bekasi, Jl Sudirman seputar Kranji Bekasi Barat, seputar perempatan Bulak Kapal Kecamatan Bekasi Timur, termasuk di beberapa jalan raya yang lalu lintasnya sangat padat.

Ketika ditanya mengenai upaya untuk mengatasi pencemaran udara, Dadang dan Zaenal mengaku pihaknya sebagai BPLH hanya sebatas melakukan penelitian. Upaya untuk menekan pencemaran udara adalah dengan melakukan uji emisi kendaraan.

“Pencemaran udara ini karena kualitas bahan bakar minyak di negara kita kurang baik. Ini karena hasil uji emisi di lapangan, kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak bensin atau premium hanya 60-70 persen yang lulus emisi, sedang kendaraan yang bahan bakarnya menggunakan solar, yang lulus emisi hanya sekitar 30 persen,” paparnya.

— —

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/content/read/pencemaran-udara-kota-bekasi-di-ambang-batas/