Pembelajaran dengan Pendekatan Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Kemampuan Konsep Bangun Ruang pada Siswa Kelas IX

 
di Posting olehrulam Jul 22, 2012
 

Baca juga artikel ini:

Pembelajaran dengan Pendekatan Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Kemampuan Konsep Bangun Ruang pada Siswa Kelas IX

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang Masalah

 

Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika dimaksudkan agar kegiatan belajar yang berlangsung selama ini mampu menghasilkan proses pembelajaran yang berkualiatas dan menghasilkan siswa menguasai materi secara optimal.

Guru selama ini lebih mengutamakan kegiatan pembelajaran yang berorientasi kognitif, dan sering meninggalkan peran lain seperti afektif maupun perkembangan psikomotor siswa, sehingga perubahan kedewasaan siswa setelah mengikuti rangkaian pembelajaran menjadi kurang maksimal.

Proses belajar, adalah usaha pendewasaan siswa yang dilakukan dengan membekali siswa dengan berbagai ilmu pengetahuan, keterampilan sehingga dengan pengetahuan dan keterampilan tersebut, siswa dapat sukses menjalani kehidupannya, baik dimasa sekarang maupun di masa yang akan datang.

Kegiatan belajar yang sesuai dengan perkembangan dan perubahan paradigma pendidikan, adalah kegiatan belajar yang mampu mensinergikan ranah kognitif, afektif dan psikomotor secara bersamaan, selanjutnya kegiatan belajar tidak hanya menempatkan siswa sebagai objek yang harus mengikuti seluruh keinginan guru, tetapi kegiatan belajar yang mampu mendukung perubahan adalah kegiatan belajar yang membuka dialog dan komunikasi aktif antara siswa dan guru.

Kegiatan pembelajaran sedemikian dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar kehidupan siswa, dan ada di lingkungan sekolah, selanjutnya alat peraga yang ada akan lebih bermakna jika berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan pelaksanaan pembelajaran juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga visual atau gambar.

Matematika adalah bidang studi yang diajarkan sejak siswa berada di sekolah dasar, bahkan mulai diperkenalkan pada siswa taman kanak-kanak, hal ini dimaksudkan agar siswa tidak merasa asing dengan materi ajar matematika dan mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan tersebut, tidak terlalu berlebihan, karena matematika banyak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, khususnya untuk benda tiga dimensi atau dikenal dengan bangun ruang, dalam mengajarkan bangun ruang seperti kubus, balok, tabung, bola, prisma, limas dan sebagainya, dapat dilakukan dengan alat peraga, dengan menggunakan benda konkrit yang ada di sekitar kehidupan siswa, maupun dengan menggunakan lat peraga dalam bentuk gambar (visual)..

Tentunya penggunaan alat peraga akan memberi banyak keuntungan kepada siswa, karena siswa dapat memahami dengan baik konsep dan karakteristik materi yang disampaikan, selanjutnya guru akan menjadi lebih kreatif dalam menggunakan dan memilih alat peraga yang sesuai dengan materi ajar yang akan disampaikan, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan minat belajar, kreativitas dan hasil belajar siswa.

Sebagai guru matematika penulis juga menggunakan alat peraga sebagai media.  tetapi setelah dilakukan pembelajaran matematika menggunaan alat peraga, penulis selalu menemukan siswa-siswa yang belum memahami konsep materi yang diberikan, bahkan  para siswa masih banyak yang bingung dalam menyelesaiakan soal-soal latihan. Berdasarkan kenyataan tersebut penulis ingin meneliti faktor-faktor penyebab utama siswa kurang memahami konsep materi pelajaran setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang tersebut maka dirumuskan masalah utama ” apakah faktor-faktor penyebab  siswa kurang memahami konsep materi bangun ruang setelah dilakukan pembelajaran menggunakan alat peraga?”.

 

  1. Batasan Masalah

Penelitian yang akan dilaksanakan dibatasi pada:

  1. Pembelajaran hanya pada pokok bahasan bangun ruang  .
  2. Kelompok sasaran yang akan dikenai tindakan adalah Siswa SMP Kelas VIII dan IX SMP
  3. Penelitian dilakukan di SMP Muhamadiyah 9 Kota Yogyakarta
  4. Tujuan Penelitian

1.  Untuk guru matematika

Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai masukan dalam mengajarkan dan menyampaikan pokok bahasan bangun ruang pada siswa dengan alat peraga yang tepat sasaran

2. Untuk sekolah,

Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk melengkapi sarana dan prasarana belajar dalam menunjang peningkatkan kualitas hasil belajar siswa kususnya penggunaan alat peraga .

3. Untuk siswa,

Hasil penelitian dapat digunakan dalam meningkatkan daya nalar memahami karakteristik materi pelajaran dengan mempedomani alat peraga yang digunakan sehingga siswa dapat memperoleh hasil maksimal.

 

  1. Metode Penelitian

Metode penelitian dilakukan dengan penelitian langsung di SMP Muhamadiyah 9 kota Yogyakarta

 

  1. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan sebagai berikut :

  1. Latarbelakang Masalah
  2. Rumusan Masalah
  3. Batasan Masalah
  4. Tujuan Penelitian
  5. Metode Penelitian
  6. Sistematika Penulisan
  7. Landasan Teori
  8. Analisis data dan pembahasan
  9. Kesimpulan dan Saran
  10. Daftar Pustaka

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PUSTAKA

 

  1. 1.      Kajian Pustaka
    1. Media Pembelajaran

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.

 

Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :

1)      Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.

2)      Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.

3)      Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.

4)      Media menghasilkan keseragaman pengamatan

5)      Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.

6)      Media membangkitkan keinginan dan minat baru.

7)      Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.

8)      Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak

Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya :

1)      Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik, model

2)      Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya

3)      Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya

4)      Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif.

Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu teknis.

Secara umum media mempunyai kegunaan:

1)      memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.

2)      mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.

3)      menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid  dengan sumber belajar.

4)      memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.

5)      memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman &
menimbulkan persepsi yang sama.

Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Kemp and Dayton, 1985:

1)      Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar

2)      Pembelajaran dapat lebih menarik

3)      Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori
belajar

4)      Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek

5)      Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan

6)      Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun
diperlukan

7)      Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses
pembelajaran dapat ditingkatkan

8)      Peran guru berubahan kearah yang positif

Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Sebagai contoh media kaset audio, merupakan media auditif yang mengajarkan topik-topik pembelajaran yang bersifat verbal seperti pengucapan (pronounciation)  bahasa  asing. Untuk pengajaran bahasa asing media ini tergolong  tepat  karena bila secara  langsung  diberikan tanpa media sering terjadi ketidaktepatan yang akurat dalam pengucapan pengulangan dan sebagainya. Pembuatan media kaset audio ini termasuk mudah, hanya
membutuhkan alat perekam dan narasumber yang dapat berbahasa asing,
sementara itu pemanfaatannya menggunakan alat yang sama pula.

  1. Asas Didaktik dalam pembelajaran matematika SMP

Dikdaktik adalah sebagian dari pedagogik atau ilmu mendidik anak. Dengan demikian kita bisa menyatakan bahwa dikdaktik adalah ilmu mengajar yang memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara penyampaian bahan pelajaran sehingga dikuasai dan dimiliki oleh siswa. Asas-asas dikdaktik yang utama untuk dihayati dan diterapkan oleh guru dalam mengelola proses belajar mengajar diuraikan sebagai berikut:

1)      Asas Didaktik

Herbart (1841) menyatakan apersepsi adalah kegiatan untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru dengan bantuan pegetahuan-pengetahuan yang telah ada. Apersepsi digunakan dalam mengajar dengan maksud untuk mempermudah memahami ide-ide yang baru dipelajari dengan mengaitkan pada pemahaman ide yang telah dimiliki siswa

 

 

1)      Asas Peragaan

Asas peragaan dalam pembelajaran matematika sangat bermakna untuk meningkatkan pemahaman dan daya tarik buat siswa untuk mempelajari matematika. Berbagai jenis peragaan kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan asas peragaan diungkapkan oleh Edgar Dale dalam bukunya ”Audio Visual in Teaching” sebagai berikut:

  1.                                  i.      Pengalaman langsung
  2.                                ii.      Pengalaman yang diatur
  3.                               iii.      Dramatisasi
  4.                              iv.      Demonstrasi
  5.                                v.      Karyawisata
  6.                              vi.      Pameran
  7.                             vii.      Televisi sebagai alat peraga
  8.                           viii.      Film sebagai Alat peraga
  9.                              ix.      Gambar sebagai alat peraga

 

2)      Asas Motivasi

Salah satu fungsi yang melekat pada diri guru adalah peran sebagai motivator, yang mampu mendorong anak didik agar memiliki semangat dan kemauan belajar yang sangat tinggi. Cara membangkitkan minat siswa antara lain:

  1. Penjelasan tentang manfaat belajar matematika yang dapat digunakan  dalam penguasaan iptek  dan digunakan dalam kehidupan seharri-hari.
  2. hubungkan dengan pengalaman yang lalu
  3. Berikan kesempatan berhasil (sense of success)
  4. Gunakan berbagai metode pembelajaran

 

3)      Asas Belajar Aktif

Maksud dari siswa belajar aktif adalah belajar dengan melibatkan keaktifan mental (intelektual emosional) walaupun dalam banyak hal dibutuhkan keaktifan fisik. Kadar keaktifan itu ditentukan oleh tujuh dimensi (MC Keachie,1954) sebagai berikut:

  1.                            i.      Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran
  2.                          ii.      Partisipasi siswa dalam pelaksanaan pembelajaran
  3.                         iii.      Penerimaan guru terhadap kontribusi siswa yang kurang tepat
  4.                        iv.      Kekohesifan kelas sebagai kelompok
  5.                          v.      Kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk memberikan keputusan penting dalam kehidupan sekolah
  6.                        vi.      Jumlah waktu yang diberikan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa

 

4)      Asas Kerjasama

Didalam proses pendidikan siswa perlu diberikan kesempatan untuk belajar bagaimana hidup didalam kelompok.

 

5)      Asas Mandiri

Upaya kerja keras untuk memecahkam masalah atau tantangan yang berifat tugas individual perlu dikembangkan. Siswa perlu dikembangkan untuk mencapai kepuasan dengan usaha yang keras dari diri siswa sendiri.

 

6)      Asas Penyesuaian dengan Individu Siswa

Guru harus seoptimal mungkin memberikan pelayanan pendidikan untuk memenuhi perbedaan individu siswa.

 

7)      Asas Korelasi

Asas korelasi intinya adalah mengkaitkan pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok bahasan yang lain dalam satu mata pelajaran, dan mengkaitkan hubungan atau manfaat suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain dan dalam kehidupan sehari-hari serta dalam perkembangan IPTEK.

 

8)      Asas Evaluasi yang teratur

Mengevaluasi keberhasilan proses belajar siswa perlu dilakukan secara teratur dan kesinambungan selama dan setelah proses belajar mengajar berlangsung. Evaluasi proses dan hasil belajar harus dilaksanakan dengan menganut prinsip:

  1.                            i.      Menyeluruh
  2.                          ii.      Berkesinambungan
  3.                         iii.      Berorientasi pada tujuan
  4.                        iv.      Obyektif
  5.                          v.      Terbuka
  6.                        vi.      Bermakna
  7.                       vii.      Mendidik

C.  Bangun Ruang

Dalam silabus SMP ditemukan materi bangun ruang yaitu memahami sifat-sifat tabung, kerucut, serta menentukan ukurannya. Dalam materi ini dijabarkan diantaranya menentukan luas dan volum bangun ruang. Suatu bangun disebut bangun ruang apabila titik-titik yang membentuk bangun ruang itu tidak semuanya terletak pada satu bidang yang sama. Dalam pembelajaram matematika SMP dibahas tentang :

  1. Volum bangun ruang

Untuk menentukan volum bangun ruang perlu ada pemodelan yang diperagakan.

Volum suatu bangun ruang tertutup merupakan ukuran dari seluruh bagian ruang yang berada di dalam bangun ruang tertutup tersebut. Berdasar dari volum prisma tegak , dapat ditentukan volum tabung yaitu luas alas x tinggi

  1. Menentukan volum tabung        = luas alas x tinggi.

= luas lingkaran x tinggi

t                       = πr2 x t

r                                   = πr2 t ,  jadi volum tabung = πr2 t

  1. Menentukan volum kerucut

Kerucut termasuk bangun limas. Kerucut adalah limas yang alasnya berbentuk lingkaran jadi, rumus volum kerucut = rumus volum limas.

Volum kerucut = Volum limas = 1/3 x luas alas x tinggi

= 1/3 x πr2 x t

t                        =1/3  πr2  t

r

 

  1. Menentukan volum bola

Untuk menemukan rumus volum bola ditemukan dengan mengkaitkan volum  bola dan volum kerucut dimana tinggi bola sama dengan tinggi kerucut dan jari-jari bola sama dengan jari-jari kerucut. Dari hasil pratikum didapatkan bahwa volum setengah bola = 2/3 πr3, maka volum bola = 4/3 πr3

 

               

                                           r                   

 

  1. Luas bangun ruang.

a. Luas tabung

Berikut adalah gambar  tabung dan bagian-bagiannya:

r

 

 

 

 

 

t                                   2πr

 

 

Luas tabung      = luas selimut tabung + 2 x luas lingkaran

= 2πrt + 2πr2    

= 2πr (r+t)

 

  1. Luas kerucut

dibuka

t     s                                            P       s           B

r.                                                       α

selimut kerucut

2πr             r

                                       A                             

Alas kerucut

           

Luas kerucut     = luas selimut + luas alas

Luas selimut : Luas lingaran besar = Panjang busur AB : Keliling lingkaran

L selimut : πs2 = 2 πr : 2πs

L selimut = r/s x πs2

L selimut = πrs

Jadi , L kerucut = πrs + πr2        

                        = πr (r + s)

 

 

 

c. Luas Bola

 

r

 

 

Luas Bola         = 4 x luas lingkaran ( yang diameternya = diameter bola )

= 4 x πr2

= 4 πr2

                               

 

 

 

 

 

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

  1. Setting  Penelitian

 

Problem (

Desain penelitian ini menggunakan  tahapan perencanaan, tindakan dan pengamatan serta refleksi untuk setiap siklusnya. Rencana dalam penelitian ini akan dilakukan 3 siklus yang masing-masing siklus mempunyai hubungan , yang dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Setting dan karakteristik subyek Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kelas IX B SMP Muhammadiyah 9 Yogyakarta pada semester gasal tahun ajaran 2008-2009. Penelitian ini dilakukan secara kolaborasi antara 2 orang guru matematika SMP Muhammadiyah 9 Yogyakarta, dengan pembimbing dari dosen UNY Karangmalang Yogyakarta. Jumlah siswa yang direncanakan sebanyak … siswa yang terdiri dari …. siswa laki-laki dan … siswa perempuan . Sedangkan karakteristik siswa tersebut adalah siswa yang rata-rata kemampuannya lebih tinggi dari kelas yang lain dan kemampuannya kurang bila dibanding dengan siswa dari sekolah negeri pada umumnya, serta tingkat kemampuan ekonomi adalah menengah kebawah serta guru yang mengajar 95 % sarjana.

  1. Persiapan penelitian
    1. Menyusun instrumen pembelajaran
    2. Sosialisasi kepada siswa
    3. Penyusunan LKS
    4. Penyusunan langkah kerja.
    5. Penyusunan lembar evaluasi
    6. Penyusunan lembar observasi guru
    7. Penyusunan kuisioner siswa
    8. Penyusunan jadwal
    9. Penyediaan model soal volum dan luas bangun ruang
    10. Pengelompokan siswa
    11. Penyediaan alat peraga/ alat bantu mengajar

 

  1. Rencana Tindakan

Penelitian ini menggunakan pendekatan peragaan dan diskusi kelompok dalam tindakan pembelajaran, siswa diminta untuk mempraktekkan alat peraga yang disediakan untuk memperoleh konsep rumus volum dan luas bangun ruang, dan siswa disuruh mencari contoh soal yang ada hubungannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat langsung menerapkan konsep volum dan luas dalam kehidupan nyata.Adapun rencana tindakan dalam setiap pertemuan sebagai berikut :

  1. Mengaitkan pengetahuan awal sesuai dengan kehidupan nyata
  2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
  3. Melaksanakan tindakan dalam kegiatan pembelajaran
  4. Melakukan observasi
  5. Siswa diminta merumuskan kesimpulan dengan bimbingan guru
  6. Siswa mengerjakan LKS
  7. Guru menjadi fasilitator mengarahkan dalam diskusi kelas tentang pemecahan masalah pada volum dan luas bangun ruang.
  8. Siswa diminta mengerjakan evaluasi
  9. Melakukan refleksi
  10. Mengelompokkan siswa untuk bekerjasama
  11. Siswa menampilkan hasil kelompok
  12. Guru membuat penilaian
  13. Jadwal Penelitian
No Kegiatan

Bulan/ Minggu ke

 

Mei

Juni

juli

Agustus

September

Oktober

 
    4 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penyusunan proposal dan revisi x x x                                      
2 Pembuatan perangkat PBM dan istrumen       x x x x                              
3 Pelaksanaan               x x x x x x                  
4 Evaluasi dan refleksi               x x x x x x                  
5 Penyusunan hasil penelitian                           x x x            
6 Penyusunan laporan                           x x x            
7 Laporan                                 x x x      

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 6 minggu dengan 3 siklus . prosedur pelaksanaan dalam setiap siklus adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Rincian prosedur pelaksanaan penelitian pada siklus 1 dipaparkan secara lengkap dan rinci , sedang untuk siklus selanjutnya prosedur pelaksanaan hampir sama dengan siklus yang pertama. Dengan demikian pembahasannya difokuskan pada hasil observasi dan analisa refleksi.

  1. Siklus 1
    1. Perencanaan

Perencanaan diawali dengan pembuatan rencana pembelajaran atau silabus yang dilengkapi dengan petunjuk demonstrasi alat peraga yang dilaksanakan oleh siswa dengan petunjuk yang disediakan, model bangun ruang , lembar pengamatan atau observasi yang dikerjakan secara kelompok, LKS( lembar kerja siswa ) , kuisioner yang diisi oleh siswa. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan diskusi kelompok.

  1. Pelaksanaan

Peneliti mengimplementasikan rencana yang telah direncanakan sesuai dengan prosedur yang telah dibuat, serta peneliti mengawali dengan memberikan contoh manfaat mempelajari materi  luas bangun ruang dalam kehidupan nyata atau secara kontekstual. Pada siklus 1 ada tiga pertemuan yaitu :

Pertemuan I

Kegiatan I : diskusi menemukan konsep  bentuk bangun ruang dalam kehidupan sehari-hari seperti tabung,  kerucut dan  bola  dengan menggunakan alat peraga yang telah disediakan di masing-masing kelompok dan mengisi lembar tugas yang telah disediakan sesuai dengan petunjuk yang dibuat oleh guru.

Kegiatan II : disajikan lembar kerja siswa dan masing-masing kelompok untuk menentukan banyak titik sudut, banyak sisi dan banyak rusuk pada tabung, kerucut dan bola.

Pertemuan II dan III

Kegiatan I : diskusi menentukan  konsep jaring-jaring  tabung, jaring-jaring kerucut dan jaring-jaring bola  dengan menggunakan alat peraga yang telah disediakan di masing-masing kelompok dan mengisi lembar tugas yang telah disediakan sesuai dengan petunjuk yang dibuat oleh guru.

Kegiatan II : disajikan lembar kerja siswa dan masing-masing kelompok untuk menggambar jaring-jaring tabung, kerucut dan bola

Kegiatan III: Dengan diskusi siswa menentukan luas tabung, luas kerucut dan luas bola

Kegiatan III : Siswa mengerjakan soal pemahaman konsep yang telah disediakan oleh guru secara mandiri

Kegiatan IV :  Siswa mengerjakan soal penalaran dan komunikasi yang telah disediakan oleh guru secara mandiri.

 

  1. 3.      Pengamatan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama proses pembelajaran pada siswa diperoleh temuan- temuan sebagai berikut :

  1. Tingkah laku siswa

Tingkah laku siswa saat pembelajaran berlangsung sebagian besar aktif mengikuti jalannya proses pembelajaran tapi masih ada siswa yang dalam mengikuti pembelajaran kurang aktif dan cangung serta ada yang salah tingkah saat menjawab pertanyaan guru atau saat presentasi. Namun motivasi siswa sebagian besar tinggi.

  1. Jawaban siswa saat diberi pertanyaan

Dalam menjawab soal tentang pengertian titik sudut pada bangun ruang dan rusuk pada bangun ruang sebagian siswa belum faham.

Untuk menjawab pertanyaan tentang luas bangun ruang sebagian besar siswa masih kesulitan terutama pada pertanyaan yang diketahui luasnya kemudian ditanyakan tinggi atau jari-jarinya.

  1. Nilai rata-rata dan daya serap

Nilai rata-rata dan daya serap pada siklus pertama adalah 69,08 dan 67,63 %

 

  1. 4.      Refleksi

Setelah dilaksanakan pembelajaran di dalam kelas diperoleh temuan-temuan yang bersifat membangun adalah sebagai berikut :

Dalam kegiatan pembelajaran apersepsi sudah cukup baik. Situasi umum tidak terlalu tegang , penguasaan materi cukup bagus. Guru sudah mengaitkan realita dalam kehidupan nyata.Penyampaian materi dengan jelas sesuai hierarkhi belajar dan karakteristik siswa dan sudah mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan misal tentang harga jual beli bahan yang diperlukan dengan luas bahan.

Pelaksanaan pembelajaran sudah runtut dan bersifat kontekstual dan sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan. Pemanfaatan media pembelajaran belum maksimal meskipun sudah melibatkan siswa. Guru telah memantau kemajuan belajar siswa,  sudah menggunakan bahasa lisan dan tulis dengan jelas, siswa dilibatkan dalam membuat rangkuman materi pembelajaran pada akhir kegiatan.

Beberapa catatan yang perlu diperhatikan oleh  guru yaitu peningkatan penggunaan tehnik  bertanya dengan benar, kesiapan belajar siswa agar lebih diperhatikan termasuk kebersihan kelas, ketertiban siswa dan situasi kelas, serta judul dan tujuan pembelajaran lebih dipertegas.

 

 

 

  1. B.     Siklus 2
    1. Perencanaan

Perencanaan pada siklus kedua melanjutkan materi pada siklus pertama yaitu menemukan konsep volum bangun ruang. Sebelum melakukan pembelajaran pada siklus kedua siswa diingatkan kembali  manfaat materi volum bangun ruang dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini yang perlu dipersiapkan adalah pembuatan rencana pembelajaran atau silabus yang dilengkapi dengan petunjuk demonstrasi alat peraga yang dilaksanakan oleh siswa dengan petunjuk yang disediakan, model bangun ruang , lembar pengamatan atau observasi yang dikerjakan secara kelompok, LKS( lembar kerja siswa ) , kuisioner yang diisi oleh siswa. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan diskusi kelompok.

 

  1. Pelaksanaan

Kegiatan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana pembelajaran pada siklus kedua. Siswa dengan berkelompok memperagakan seperti dalam lembar petunjuk yang telah disediakan oleh guru secara berkelompok, siswa mengisi lembar kegiatan yang telah disediakan. Pada siklus ini, serta peneliti mengawali dengan memberikan contoh manfaat mempelajari materi  volum  bangun ruang dalam kehidupan nyata atau secara kontekstual. Pada siklus ke dua  ada dua pertemuan yaitu :

Pertemuan I

Kegiatan I : diskusi menemukan konsep rumus volum tabung, volum kerucut dan volum bola  dengan menggunakan alat peraga yang telah disediakan di masing-masing kelompok dan mengisi lembar tugas yang telah disediakan sesuai dengan petunjuk yang dibuat oleh guru.

Kegiatan II : disajikan lembar kerja siswa dan masing-masing kelompok untuk menentukan penyelesaiannya.

Pertemuan II

Kegiatan III : Siswa mengerjakan soal pemahaman konsep yang telah disediakan oleh guru secara mandiri

 

 

  1. 3.      Pengamatan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama proses pembelajaran pada siswa diperoleh temuan- temuan sebagai berikut :

  1. Tingkah laku

Selama proses belajar mengajar berlangsung tingkah laku siswa beraneka ragam, khususnya saat praktik menemukan rumus volum bangun ruang yang menggunakan alat peraga. Ada beberapa siswa dalam kelompoknya kurang aktif dan serius  saat praktik berlangsung. Hal itu dimungkinkan karena tidak memperhatikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Setelah praktik selesai ada kelompok siswa perlu bantuan guru didalam menuangkan rumus volum bola, kendalanya berada pada tinggi kerucut sama dengan dua kali jari-jari bola. Dengan bantuan guru akhirnya kelompok tersebut dengan jelas dapat menuliskan rumus volum bola dengan benar. Saat presentasi berlangsung dengan perwakilan kelompok  maju untuk menuliskan hasil kerja yang diperoleh dengan lancar dan jelas, kemudian guru membahas hasil yang ditulis dipapan tulis.

  1. Jawaban siswa saat diberi pertanyaan

Pada saat praktik guru bertanya  bagaimana caranya menghubungkan antara volum bangun ruang tabung dengan kerucut dan bangun kerucut dengan bola atau bola dengan tabung. Jawaban siswa belum faham bagaimana caranya menghubungkan. Guru mengingatkan kembali rumus volum pada bangun sisi datar yaitu luas alas kali tinggi. Siswa menggunakan konsep rumus volum bangun datar ke dalam volum tabung. Dari hasil praktik bahwa volum kerucut adalah sepertiga dari volum tabung dan volum kerucut sama dengan volum setengah bola. Dengan uraian proses menemukan rumus volum tabung kerucut dan bola dan hubungannya ketiga volum tersebut  siswa mampu menghubungkan volum tabung, kerucut dan bola.

Setelah siswa menemukan rumus volum tabung , kerucut dan bola  berikutnya siswa secara kelompok dan mandiri  siswa mengerjakan soal pemahaman konsep volum tabung, kerucut dan bola dengan nilai yang memuaskan dengan rata –rata 91,5.

 

  1. Nilai rata-rata dan daya serap

Nilai rata-rata pada dan daya serap pada saat mengerjakan volum bangun ruang adalah 91,5 dan 91,5 %

 

  1. 4.      Refleksi

Guru dalam membuka pelajaran sudah menggunakan apersepsi dengan baik. Dalam kegiatan inti guru telah menuliskan judul dan tujuan pembelajaran. Selama praktik dilaksanakan guru telah menjadi fasilitator yang baik bagi siswa sehingga siswa mampu menyelesaikan dan memecahkan persoalan yang dihadapi. Guru mampu menunmbuhkan motivasi dan rasa sukses selama kegiatan belajar mengajar berlangsung sehinggga minat siswa meningkat serta suasana belajar yang menyenangkan.

Disisi lain masih ada kekurangan guru saat mengajar yaitu perhitungan waktu yang kurang cermat dikarenakan saat praktik tidak disebutkan batasan waktu untuk siswa dalam mengerjakan tugas. Dengan adanya waktu yang kurang maka guru bersama siswa tidak sempat merangkum dan pengerjaan soal siswa secara kelompok tidak langsung terbahas saat pertemuan itu.

Setelah pertemuan berlangsung guru mengoreksi hasil pekerjaan kelompok yang ternyata masih banyak kelompok dalam pengerjaan salah terutama pada soal yang diketahui volumnya dan ditanyakan jari-jarinya atau tingginya.

Pertemuan berikutnya guru mengingatkan lagi rumus volum tabung, kerucut dan bola dan siswa mencoba untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh guru.

 

  1. C.     Siklus 3
    1. Perencanaan

Perencanaan pada siklus ke-3 melanjutkan materi pada siklus ke-2 yaitu penyelesaian soal-soal penerapan yang berhubungan dengan luas dan  volum bangun ruang.Pada tahap ini yang perlu dipersiapkan adalah pembuatan rencana pembelajaran atau silabus yang dilengkapi dengan contoh –contoh soal,  LKS( lembar kerja siswa ) , kuisioner yang diisi oleh siswa. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan diskusi kelompok.

 

  1. Pelaksanaan

Kegiatan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana pembelajaran pada siklus ke-3. Siswa dengan berkelompok membahas soal yang disediakan oleh guru yang dikerjakan secara berdiskusi kelompok. Pada pelaksanaan siklus ke-3 ini ada 2 pertemuan yaitu:

 

Pertemuan I

Kegiatan I : Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan luas bangun ruang.

Kegiatan II : Disajikan soal penyelesaian masalah siswa menyelesaikan secara individu.

Pertemuan II

Kegiatan III : Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan volum  bangun ruang.

Kegiatan II : Disajikan soal penyelesaian masalah siswa menyelesaikan secara individu.

 

  1. 3.      Pengamatan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama proses pembelajaran pada siswa diperoleh temuan- temuan sebagai berikut :

  1. Tingkah laku anak

Tingkah laku anak sudah menunjukkan keseriusan. Mereka aktif mengerjakan soal setelah guru mengingatkan kembali tentang luas bangun ruang dan cara mencari vormula rumus misal untuk mencari tinggi bangun ruang bila diketahui luasnya atau  volumnya  atau mungkin  keliling alas bangun tersebut. Dengan menggunakan istilah segitiga emas yang diterap oleh guru maka siswa akan lebih mudah menentukan vormula rumus yang lain untuk menjawab pertanyaan dari soal tersebut. Disamping itu ada beberapa temuan bahwa masih ada siswa dalam berdiskusi kurang termotivasi, hal tersebuta dikarenakan tingkat kemampuan siswa yang kurang dan motivasi belajar siswa yang masih belum Nampak.Ada beberapa siswa yang masih bingung dalam mencari unsur yang lain apabila diketahui luas atau volumnya. Guru saat diskusi berlangsung memberikan motivasi pada siswa yang kurang termotivasi dan memberikan keterangan seperlunya bagi siswa dalam kelompok diskusi.

  1. Jawaban siswa saat diberi pertanyaan

Siswa kesulitan menjawab pertanyaan guru saat guru bertanya bila soal itu diketahui volumnya dan ditanyakan luas bangun tersebut. Siswa kebanyakan masih belum bisa menghubungkan antara luas permukaan selimut tabung dan luas permukaan tabung seluruhnya atau luas sebaliknya

  1. Nilai rata-rata dan daya serap

 

 

  1. 4.      Refleksi

 

BAB V

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

 

  1. Saran

 

  1. Daftar Pustaka

 

Muhaimin, Pemikiran PendidikanIslam: Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar

Operasionalnya,  Bandung:Trigenda Karya, 1993.

Abor, Rahman. Kepemimpinan Pendidikan Bagi Perbaikan dan PeningkatanPengajaran.

Yogyakarta: Nur Cahaya. 1994.

Adlan, Aidin. Hubungan Sikap Guru Terhadap Matematika dan Motivasi Berprestasi

Dengan Kinerja. Matahari N0.1. 2000.

Aqib, Zainal. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya:

Insan Cendekia. 2002.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta 1998.

Azwar, Saifuddin. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:

Liberty. 1988.

Harahap, Baharuddin. Supervisi Pendidikan Yang Dilaksanakan Oleh Guru

Kepala Sekolah, Penilik dan Pengawas Sekolah. Jakarta. Damai Jaya. 1983.

Hasibuan, J.J. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Karya. 1986.

Ibrahim, R. Kurikulum Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi

Pendidikan FIB UPI. 2002.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KUISIONER SISWA

Hari / tanggal          :

Sekolah      :

Kelas         :

Petunjuk pengisian :

  1. Berikan tanda(v) pada kolom sesuai angka yang anda anggap sesuai .
  2. Jawablah secara subyektif
  3. Jawaban yang anda berikan tidak mempengaruhi nilai anda.

No

Uraian

Kriteria

Awal penelitian

A Presentasi   5 4 3 2 1
 
  1. Cara mengajar guru
Menarik dan menyenangkan          
 
  1. Cara guru menyajikan materi
jelas          
 
  1. Suara guru saat mengajar
keras          
 
  1. Cara guru menberikan kesempatan menjawab pertanyaan
merata          
 
  1. Guru dalam memberikan pujian untuk siswa yang menjawab benar, atau yang berperan aktif
sering          
 
  1. Guru menindaklanjuti bagi siswa yang menjawab salah
sering          
 
  1. Media yang digunakan oleh guru saat mengajar
lengkap          
 
  1. Kesesuaian alat peraga yang digunakan oleh guru saat mengajar
sesuai          
B Materi/ Bahan ajar            
 
  1. Materi yang sedang diberikan dibandingkan materi sebelumnya
mudah          
 
  1. Materi menggunakan model bangun ruang
sering          
 
  1. Membuat catatan KBM
sering          
 
  1. Keinginan anda untuk belajar matematika
tinggi          
 
  1. Minat anda untuk bertanya/ merespon kegiatan belajar
tinggi          
 
  1. Bagi saya belajar luas dan volum menggunakan alat peraga sangat menbantu
menarik          
C Jumlah            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OBSERVASI ACTION RESEARCH

Nama guru model         :

Nama sekolah              :

Tahun Pelajaran/ sem    :

Pokok bahasan :

Sub pokok Bahasan     :

Hari/ tanggal     :

Siklus / pertemuan ke    :

No Aspek yang dilihat Ya Tidak Keterangan
A Guru      
  Pendahuluan

a.Membuka pelajaran

b. Menberikan apersepsi

     
  Inti

  1. Menyebutkan judul pembelajaran
  2. Menyebutkan tujuan pembelajaran
  3. Materi sesuai yang diajarkan
  4. Memberikan kesempatan untuk bertanya
  5. Menjadi fasilitator kepada siswa
  6. Meminta siswa untuk meberikan pendapat
  7. Menberikan tanggapan atas pendapat siswa
  8. Menbagikan LKS kepada siswa
  9. Membimbing siswa saat proses KBM
  10. Berkeliling kelas saat memantau pekerjaan kelompok/ individu
     
  Penutup

  1. Membimbing siswa dalam merangkum
  2. Memberikan tugas rumah
  3. Menutup pelajaran
     
B siswa      
 
  1. Siap mengikuti pembelajaran
  2. Termotivasi dalam mengukuti pembelajaran
  3. Aktif dalam mengikuti pelajaran
  4. Mengajukan pertanyaan
  5. Merespon jawaban guru.
  6. Siswa berpartisipasi aktif dalam mengikuti pelajaran
  7. Siswa bisa belajar berkelompok
  8. Siswa mandiri dalam mengerjakan  tugasnya
  9. Bisa belajar antar siswa.