Membuat Pagar Tanaman di Depan Rumah

 
di Posting olehrulam Aug 04, 2012
 

Baca juga artikel ini:

Pagar hidup, istilah untuk tanaman yang tumbuh rapat dan berdampingan di pekarangan rumah sehingga menyerupai pagar atau tembok.

Berbagai alternatif tanaman sebetulnya dapat dilakukan oleh si pemilik rumah untuk pagar hidup ini. Tanaman yang menjadi pagar ini dapat ditanam tanpa tembok semen atau pagar bambu, dapat juga ditanam mendampingi tembok rumah.

Heriansyah Sudrajat, seorang warga yang tinggal di perumahan Puri Citayam, sempat kebingungan dengan taman yang dapat mendampingi tembok rumahnya. “Aku mau tanaman yang tak seberapa tinggi, batang dan rantingnya tidak seberapa besar, akarnya pun tidak mengganggu dan merusak tembok,” ujarnya.

Tanaman pagar selama ini kerap dipahami hanya sebatas tanaman seperti tanaman teh-tehan, pangkas kuning, kembang sepatu, kemuning, bougenvillea atau kembang kertas. Padahal, jenis tanaman yang dapat dijadikan tanaman pagar masih banyak.

Syarat tanaman pagar tentu banyak hal yang harus diperhatikan. Pertama, tanaman itu tidak merugikan tanah, tembok bahkan fondasi tembok rumah. Kedua, tanaman cukup bandel, tak harus memerlukan perlakuan khusus. Ketiga, mampu beradaptasi di media tanah yang bermacam karakternya.

Tanaman pagar lain yang cukup jarang ditanami orang misalnya mirten, hokiantea, sidoguri juga kemuning cina.

“Tanaman yang dapat dijadikan pagar selain itu adalah pucuk merah, heliconia (pisang hias), cenderawasih, sugi belut, juga berbagai varian tanaman sugi lainnya. Menariknya, kemuning adalah pohon berbunga wangi,” ujar Maman, pemelihara tanaman di daerah Parung.

Menurutnya, untuk tanaman di musim kemarau yang paling bandel adalah teh-tehan. Jenis ini, dalam keadaan tanah apa pun, mau keras, kering, dingin atau pun basah, tetap dapat hidup. Yang lain adalah pohon sugi belut juga hanjuang. Kemuning pun, menurutnya cukup kuat, untuk bertahan di musim kemarau.

“Semua jenis tanaman pagar itu tidak merusak tembok karena mereka sering menjalar dengan akar serabut,” ujarnya.

Ada lagi tanaman yang kuat bertahan, hanya di musim kemarau ini memang tidak hijau segar daunnya. Tanaman itu adalah helikonia. “Kalau helikonia hidup itu menjalar, akarnya terus bertahan, dia hidup kendati beberapa tepi daunnya agak kekuningan untuk bertahan di musim kemarau,” katanya.

Tanaman lain yang cukup tangguh pada musim kemarau yang membuat tanah menjadi kering adalah cenderawasih. Tanaman yang batang dan rantingnya kerap bercabang banyak ini juga tahan pada situasi tanah kering.

Hanya, daunnya yang kecil-kecil, kerap menjadi kendala bagi si pemelihara sehingga tidak memilih jenis tanaman ini. “Sebenarnya cenderawasih biar daunnya kecil juga tetap dapat rimbun asalkan rajin digunting. Semua tanaman sebenarnya sama, asalkan kerap digunting daunnya jadi penuh, rimbun dan rapat,” ujarnya.

Penataan taman atau pagar hidup ini, dalam sejarahnya berkembang cukup unik. Misalnya saja, seni penataan taman bergaya Eropa yang kerap ditampilkan dengan memangkas daun dan ranting tanaman sehingga menyerupai binatang, pintu gerbang, atau berbagai bentuk dan rupa.

Di Jepang, penataan taman bisa mengarah pada penataan lanskap simbol alam, sehingga kerap menyertakan bebatuan, pasir di tengah pepohonan. Peniruan atau mimetik taman gaya Jepang ini memang kemudian mengarah pada seni penataan taman bergaya kontemporer.

Perawatan

Perawatan pada tanaman di pekarangan rumah memang memerlukan kejelian media. Media yang kerap dihadapi tak hanya tanah. Terkadang, di pekarangan rumah, sering didapati kondisi tanah sudah bercampur dengan bebatuan.

Apalagi rumah yang berada di lingkup perumahan yang kerap di saat membangun, para pekerja atau tukangnya membuang puing di beranda rumah.

Untuk itu, media yang perlu ditambahkan di pekarangan itu pun perlu diperhatikan. Jangan sekali-sekali menambahkan media di pekarangan rumah yang berisi puing, batu atau pasir dengan NPK atau pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat yang mengandung unsur hara utama nitrogen, fosfor, dan kalium secara langsung.

Pupuk buatan ini mengandung panas, bila ditaburi pada musim kemarau, tanpa siraman air atau pun hujan yang maksimal niscaya akan membuat tanaman stres atau menderita kekeringan kemudian mati. NPK dapat dipakai bila tanaman itu sudah beradaptasi. Setelah sebulan atau lebih, tanaman baru dapat ditaburi NPK.

Yang perlu dilakukan adalah mencampurnya dengan tanah. Tanah yang bukan tanah lempung, tapi tanah yang mengandung humus. Bisa juga tanah biasa diaduk dengan kompos dan pupuk kandang yang sudah dikeringkan dan biasa dijual di lapak tanaman. Dengan campuran yang merata, semua media itu diaduk lagi pada pekarangan yang berisi pasir atau sisa puing tadi.

Lakukan penanaman di sore atau pagi hari di saat udara tidak sedang panas-panasnya. Daun tanaman pun dapat dikurangi sedikit agar ketika tanaman masih baru ditanam tidak stres, karena berkurangnya daun dapat mengurangi penguapan.

Setelah disiram, tanaman yang akan ditanam sebaiknya perlu diambil hati-hati dari pollybag. Tanah asal tanaman terkadang perlu dipertahankan semuanya atau sebagian sehingga tak perlu lepas dari akar tanaman. Jadi, mempertahankan bola akar.

Tujuannya, agar tanaman tidak stres melewati masa kemarau ini. Tanah ini kerap akan bercampur dengan tanah di sekitar pekarangan rumah. Akar pun dapat beradaptasi lebih dulu sebelum akhirnya serabutnya menyebar di tanah yang baru kita olah. Selamat bercocok tanam di pekarangan depan rumah Anda!

(Sinar Harapan).

 

http://www.shnews.co/detile-5859-membuat-pagar-tanaman-di-depan-rumah.html