KONSEP KEADILAN SEBAGAI SYARAT POLIGAMI MENURUT FIQH MADZHAB SYAFI’I

 
di Posting olehrulam Aug 29, 2012
 

Baca juga artikel ini:

HAMID, HISNUL. KONSEP KEADILAN SEBAGAI SYARAT POLIGAMI MENURUT FIQH MADZHAB SYAFI’I

Kata kunci: Keadilan, Poligami, Madzhab Syafi’i

Ulama’ sepakat bahwa Poligami dalam Islam adalah boleh dengan syarat suami mampu untuk bersikap adil terhadap istri-istrinya. Adapun yang menjadi landasan hukumnya adalah surat al-Nisa’ ayat 3. Meskipun demikian, terdapat perbedaan pendapat di antara ulama’ madzhab tentang bagaimana konsep keadilan itu sendiri dalam berpoligami. Hal ini disebabkan dari sisi mana dalam memahami ayat tersebut. Sebagaimana yang akan dibahas yakni pandangan ulama’ madzhab Syafi’i.

Penelitian ini untuk mengetahui konsep adil dalam poligami khususnya fiqih madzhab Syafi’i. Dalam penjelasannya ulama’ golongan madzhab ini membolehkan bagi suami melakukan poligami dengan syarat yakin atau menduga kuat mampu berlaku adil terhadap istri-istrinya. Kebolehan poligami ini bukan anjuran tetapi salah satu solusi yang diberikan dalam kondisi khusus kepada mereka (suami) yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat tertentu. Pembatasan masalah dalam penelitian ini perlu dilakukan agar pembahasan yang ada tidak terlalu luas dan tidak menyimpang dari pokok permasalahan, disamping itu juga untuk mempermudah melaksanakan penelitian. Oleh sebab itu maka penulis membatasi penelitian dengan hanya membahas permasalahan tentang pernikahan poligami dan keadilan sebagai diperbolehannya menurut madzhab Syafi’i.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan menggunakan metode deskriptif analisis terhadap pendapat para ulama’ madzhab Syafi’i, sebagai data primer dan data sekundernya diambil dari kitabkitab atau buku-buku yang ada kaitannya dengan masalah tersebut. Data yang ditemukan adalah, menurut ulama’ madzhab Syafi’i, makna keadilan sebagai syarat poligami bukan pada keadilan makna batin (seperti cinta dan kasih sayang) tetapi keadilan pada hal-hal yang bersifat material dan terukur. Sebagaimana diisyaratkan oleh ayat 129 surat al-Nisa’ dan latar belakang sosiologis sebab turun ayat poligami (ayat 3: al-Nisa’). Yang dimaksud dengan pembagian yang seadil-adilnya, ialah dalam hal: nafkah, pakaian, tempat tinggal, dan waktu giliran.