Upaya Efisiensi Penggunaan Pupuk Dalam Usahatani Cabai Merah Di Nusa Tenggara Barat

 
di Posting olehrulam Sep 10, 2012
 

Baca juga artikel ini:

Upaya Efisiensi Penggunaan Pupuk Dalam Usahatani Cabai Merah Di Nusa Tenggara Barat – Kunto Kumoro, Sudjudi, dan Mashur (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB).

Abstrak

Pengkajian penerapan inovasi teknologi produksi cabai merah telah dilaksanakan di dataran tinggi desa Sembalun Lawang, kabupaten Lombok Timur pada bulan Maret 2003 sampai dengan Oktober 2003 dengan tujuan mendapatkan paket teknologi pemupukan cabai merah spesifik lokasi yang cukup efisien dengan harapan akan diperoleh tambahan peningkatan pendapatan usahatani. Pengkajian melibatkan secara aktif 11 orang petani kooperator dan 5 orang petani non kooperator yang berada sekitar lahan pengkajian. Pengkajian dilaksanakan dengan metoda memperbandingkan cara dan takaran pemupukan yang dilakukan oleh petani setempat dengan teknologi yang diperbaiki (introduksi) yang telah dirakit melalui pengujian dan penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang.

Kebiasaan petani yang telah memasyarakat dalam pemupukan cabai merah secara ditabur/dihambur pada bedengan dibandingkan dengan cara ditugal pada lubang tanaman. Tiga perlakuan pokok yang dikaji dalam kegiatan ini yaitu : (A). Pemupukan dengan pupuk tunggal yang diaplikasikan secara ditugal pada lubang tanam, dengan takaran 5 ton/ha kompos + 200 kg/ha SP36 sebagai pupuk dasar dan ditambahkan pupuk susulan sebanyak 150 kg/ha Urea + 300 kg/ha ZA + 150 kg/ha KCl, masing-masing 1/3 bagian dan diberikan pada umur tanaman 3 , 6 dan 9 minggu setelah tanam dan ditugal pada lubang di antara dua tanaman cabai merah, (B). Pemupukan dengan pupuk majemuk (NPK) dengan aplikasi secara ditugal pada lubang tanam, dengan takaran 5 ton/ha kompos + 150 kg/ha NPK sebagai pupuk dasar dan disediakan pupuk susulan 300 – 400 kg/ha yang diberikan secara kocor/disiram melalui lubang tanam (C). Pemupukan yang banyak dilakukan petani setempat yang rata-rata mengaplikasikan pupuk 3600 kg/ha pupuk kandang + 400 kg/ha NPK sebagai pupuk dasar secara dihambur pada bedengan dan ditambahkan pupuk susulan sebanyak 200 kg/ha NPK secara kocor pada lubang tanam, 75 kg/ha Urea + 270 kg/ha ZA + 375 kg/ha SP36 + 200 kg/ha KCl + 80 kg/ha KNO3 secara ditugal di antara dua tanaman cabai. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlakuan A yang mengaplikasikan pupuk tunggal (Urea, SP36, ZA, KCl) dapat mencapai  produktivitas yang tertinggi sebesar 16.416 kg/ha dengan biaya Rp 955,-/pohon dan titik impasnya seharga Rp 1.067,-/ kg cabai merah. Perlakuan B yang mengaplikasikan pupuk majemuk (NPK) ternyata hanya membutuhkan 450 kg/ha NPK, dapat mencapai produktivitas 13.048 kg/ha dengan biaya Rp 1.063,5,-/pohon dan titik impasnya seharga Rp 1.407,-/ kg cabai merah. Sedangkan teknologi petani yang tampak kurang efisien dalam penggunaan pupuk dapat mencapai produktivitas 11.186 kg/ha dengan biaya Rp 1.277,-/pohon dan titik impasnya seharga Rp 1.909/kg cabai merah. Sosialisasi dan penerapan inovasi teknologi produksi cabai merah ini perlu diperluas agar petani cabai merah dapat melaksanakan upaya efisiensi penggunaan pupuk ini guna memperkecil kerugian yang diakibatkan adanya fluktuasi harga yang sering terjadi.

Kata kunci : Efisiensi, cabai merah, pupuk, NTB

Pendahuluan

Tanaman cabai merah (Capsicum annuum, L) merupakan salah satu jenis sayuran yang cukup penting, yang umumnya dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai bahan penyedap masakan, bahan baku berbagai industri makanan, minuman dan obat-obatan. Selain mengandung gizi yang cukup tinggi, cabai merah juga sangat potensial secara ekonomis.

Seperti komoditas hortikultura lainnya yang umumnya lekas mengalami kerusakan dan pola tanam yang sampai saat ini belum berorientasi pada permintaan pasar, menyebabkan harga komoditas cabai merah sangat fluktuatif. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab rendahnya produksi dan produktivitasnya. Kebutuhan akan cabai merah sebesar 0,37 kg/kapita/bulan atau 4 kg/kapita/tahun.

Produksi nasional  cabai merah  di Indonesia masih tergolong rendah, hasil panen berkisar 1,6 t/ha sampai dengan 11,2 t/ha dengan rata-rata baru mencapai  5,5 ton/ha. Sedangkan potensi hasil cabai merah sekitar 12–17 ton/ha (Duriat,1994 ; Duriat dan Sastrosiswojo, 1994). Untuk memenuhi kebutuhan akan cabai merah yang terus meningkat setiap tahun, maka peningkatan produksi cabai merah dan perbaikan pemasarannya perlu dilakukan melalui penerapan dan pemanfaatan inovasi teknologi produksi spesifik lokasi yang efisien. Keberhasilan usahatani suatu komoditas pertanian paling sedikit ditentukan oleh dua aspek penting yang saling berkaitan erat yaitu aspek produksi dan aspek pemasaran, karena usaha peningkatan produksi saja tidak akan mampu meningkatkan pendapatan petani bila tidak didukung dengan pemasaran (Soetiarso, 1994). Setiap tahun pasar internasional memperdagangkan 30.000 – 40.000 ton cabai merah (Lukmana, 1995).

Cabai merah di dataran tinggi Sembalun sudah cukup lama dibudidayakan, namun budidayanya masih sangat tradisional, belum memanfaatkan teknologi yang didasarkan pada penelitian yang mendalam dan dalam skala kecil, karena keterbatasan kapasitas pasar dalam menampung hasil panennya. Permasalahan yang dihadapi petani dalam usahatani cabai merah masih cukup kompleks yaitu belum berfungsinya kelembagaan tani yang dapat mendorong pengembangan usahatani cabai merah, fluktuasi harga,  kurang berkembangnya  sistem informasi, belum diterapkannya teknologi spesifik lokasi yang teruji dan belum adanya mitrausaha dalam pemasaran yang berpihak pada petani. Produktivitas cabai merah di NTB masih tergolong rendah baru sekitar 1,6 t/ha – 3,5 t/ha.

Hasil (output) cabai merah yang tergolong komersial, namun input produksinya masih bersifat subsisten, cenderung menyulitkan penerapan aspek-aspek komersial di tingkat petani. Implikasi keadaan ini berakibat masih rendahnya produktivitas dan kualitas hasil usahatani cabai merah secara nasional (Soetiarso,1996). Menurut Pasandaran (1994), peningkatan produksi cabai merah lebih mengutamakan perbaikan teknologi budidaya dan upaya perbaikan teknologi produksi cabai merah harus dimulai dari pemilihan varietas, perbenihan, perawatan tanaman di lapangan, pemanenan da pascapanennya (Duriat et al,1994).

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) yang mempunyai mandat dalam penelitian telah merakit  paket inovasi teknologi produksi dari beberapa hasil penelitian, pengalaman dan informasi yang diperoleh di lapangan, dan keikutsertaan dalam pertemuan ilmiah tentang komoditas cabai merah. Adopsi teknologi yang dihasilkan Balitsa terasa masih kurang sekali. Penyebaran teknologi dilakukan dengan kerjasama Balitsa dengan BPTP NTB dan petani yang berminat terhadap cabai merah.

Bahan dan Metode

Pengkajian inovasi teknologi produksi cabai merah dilakukan di lahan usahatani milik petani dan dengan partisipasi petani secara aktif di dataran tinggi Sembalun mulai bulan Maret sampai dengan Oktober tahun 2003. Teknologi inovasi produksi cabai merah yang dikaji merupakan rakitan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) yang telah teruji. Kajian menitikberatkan pada upaya efisiensi penggunaan pupuk, dengan memperbandingkan hasil perlakuan pemupukan yang direkomendasikan dengan perlakuan pemupukan yang biasa dilakukan petani. Balitsa merekomendasikan bahwa cabai merah dapat dipupuk dengan pupuk tunggal (Urea, SP36, ZA, KCl) ataupun pupuk majemuk (NPK). Sedangkan teknologi petani melakukan pemupukan cabai merah dengan jenis pupuk NPK yang diaplikasikan secara ditabur pada bedengan. Perlakuan dosis pupuk yang dikaji meliputi 3 dosis : (A) Pemupukan dengan pupuk tunggal yang diaplikasikan secara ditugal pada lubang tanam, dengan takaran 5 ton/ha kompos + 200 kg/ha SP36 sebagai pupuk dasar dan ditambahkan pupuk susulan sebanyak 150 kg/ha Urea + 300 kg/ha ZA + 150 kg/ha KCl, masing-masing 1/3 bagian dan diberikan pada umur tanaman 3 , 6 dan 9 minggu setelah tanam dan ditugal pada lubang di antara dua tanaman cabai merah, (B). Pemupukan dengan pupuk majemuk (NPK) dengan aplikasi secara ditugal pada lubang tanam, dengan takaran 5 ton/ha kompos + 150 kg/ha NPK sebagai pupuk dasar dan disediakan pupuk susulan 300 – 400 kg/ha yang diberikan secara kocor/disiram melalui lubang tanam (C). Pemupukan yang banyak dilakukan petani setempat yang rata-rata mengaplikasikan pupuk 3600 kg/ha pupuk kandang + 400 kg/ha NPK sebagai pupuk dasar secara dihambur pada bedengan dan ditambahkan pupuk susulan sebanyak 200 kg/ha NPK secara kocor pada lubang tanam, 75 kg/ha Urea + 270 kg/ha ZA + 375 kg/ha SP36 + 200 kg/ha KCl + 80 kg/ha KNO3 secara ditugal di antara dua tanaman cabai. (Tabel 1). Pemupukan dasar pada perlakuan A dan B dilakukan 7-10 hari sebelum tanam. Pemupukan susulan pada perlakuan A dilakukan pada umur tanaman 3 , 6 dan 9 minggu setelah tanam di sebuah kubang yang dibuat di antara dua tanaman, sedangkan perlakuan B mulai umur 2 minggu sudah diberikan pemupukan susulan secara kocor dengan dosis 20 kg/ha sampai 8-10 kali dengan interval 5-7 hari sekali. Teknologi petani (perlakuan C) melakukan pemupukan dasar 7-10 hari sebelum tanam, sedangkan pemupukan susulan dengan pupuk NPK mulai tanaman berumur 2 minggu secara kocor dengan dosis 20 kg/ha sebanyak 8-10 kali dengan interval waktu 5-7 hari sekali, sedangkan jenis pupuk lain dilakukan dengan menugal setelah tanaman berumur 4 minggu setelah tanam. Dosis pemupukan yang diberikan tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Dosis pemupukan pada kajian cabai merah, Sembalun 2003

Uraian/bahan Satuan Perlakuan
A B C
Kompos Kg/ha 5.000 5.000
Pupuk kandang Kg/ha 3600
Urea Kg/ha 150 75
SP36 Kg/ha 200 375
ZA Kg/ha 300 270
KCl Kg/ha 150 200
NPK Kg/ha 450 600
KNO3 Kg/ha 80
Cara Ditugal Ditugal dan dikocor Disebar dan dikocor

Sumber : Data primer diolah

Data yang diambil meliputi data agronomis : jumlah buah/pohon, berat buah per pohon, populasi tanaman/ha, produktivitasnya serta data ekonomi yang meliputi : harga produk , jumlah produksi dan harga jual cabai merah, jumlah dan harga sarana produksi, jumlah dan biaya tenaga kerja, biaya produksi per pohon dan tititk impasnya.

Secara umum data yang dikumpulkan dianalisis dengan Analisis Statistik Sederhana (dengan tabel) dan dijabarkan secara deskriptif. Data ekonomi dianalisis dengan Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani (Basuki,1988). Data sosial dianalisis dengan Analisis Non-parametrik.

Hasil dan Pembahasan

Upaya efisiensi dalam usahatani komoditas pertanian  dapat ditempuh melalui beberapa langkah antara lain : efisiensi penggunaan sarana produksi baik benih, pupuk, maupun pestisida atau tenaga kerja. Dalam pengkajian ini menitikberatkan pada upaya efisiensi dalam penggunaan pupuk buatan dan mencoba menambah penggunaan pupuk organik agar tanah tidak menderita sakit akibat kekenyangan pupuk buatan pabrik (an-organik). Perlakuan A menggunakan pupuk tunggal yang diaplikasikan secara ditugal merupakan upaya efisiensi penggunaan pupuk dari cara ditabur dan dikocor yang biasa dijalankan petani setempat. Perlakuan B yang dipupuk NPK serupa dengan jenis yang digunakan petani, tetapi cara aplikasinya sebagian dengan cara ditugal dan sebagian dengan cara dikocor.  Karena pertumbuhan tanaman cukup baik, petani mengurangi frekuensi ngocor dan secara keseluruhan hanya memerlukan 450 kg/ha NPK.

Dari keragaan agronomis (Tabel 2) menunjukkan bahwa teknologi inovasi yang diintroduksi (perlakuan A dan B) memberikan prospek untuk dikembangkan karena memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding teknologi yang selama ini dilakukan oleh petani (perlakuan C) di lokasi pengkajian. Perlakuan A yang menggunakan pupuk tunggal (Urea, SP36, KCl, ZA, kompos) menunjukkan angka tertinggi pada parameter jumlah buah sehat per pohon, berat buah/pohon, jumlah tanaman/hektar dan tingkat produktivitasnya yang mencapai 16,4 ton/ha, disusul kemudian perlakuan B yang menggunakan pupuk majemuk (NPK) secara tugal sebagian dan dikocor sebagian yang mencapai produktivitas 13 ton/ha. Sedangkan teknologi petani hanya mencapai tingkat produktivitas sekitar 11 ton/ha lebih.

 

Tabel 2.  Keragaan agronomis dan Produktivitas cabai merah. Sembalun 2003

Perl Jml bh/phn (buah) Jml bh baik/ phn (buah) Brt bh/phn (gram) Pop/ha (tanaman) Prod. (kg/ha)
A 108,0 102,0 895,6 18.330 16.416
B 93,2 86,1 756.0 17.259 13.048
C 82,5 76,2 669,0 16.720 11.186

Keterangan :

Teknologi anjuran/introduksi :

Perl. A  :  5 t/ha kompos + 200 kg/ha SP36 + 150 kg/ha Urea + 300 kg/ha ZA + 150 kg/ha KCl ,ditugal

Perl. B  :  5 t/ha kompos + 450 kg/ha ZA, ditugal sebagian dan dikocor sebagian.

Teknologi petani :  Perl. C :  3600 kg/ha pukand + 600 kg/ha NPK + 75 kg/ha Urea + 270 kg/ha ZA + 375 kg/ha SP36 + 200 kg/ha KCl +  80 kg/ha KNO3, ditabur(disebar) sebagian dan dikocor sebagian.

Dari Tabel 2 di atas tampak bahwa rata-rata buah yang rusak mencapai 6-7 buah/pohon dan ternyata dengan pemupukan tunggal  (perlakuan A) dicapai hasil yang lebih tinggi dibanding perlakuan B dan C yang menggunakan pupuk majemuk (NPK).

Analisis biaya yang dikeluarkan untuk pembelian pupuk (Tabel 3) menunjukkan bahwa pemupukan tunggal (perlakuan A) merupakan cara pemupukan yang paling hemat dibanding dengan cara pemupukan pada perlakuan B dan C. Biaya terbesar pada perlakuan A dan B diperuntukkan pembelian pupuk kompos yang untuk sementara (untuk kajian kali ini) harus didatangkan dari luar daerah. Apabila pupuk kompos ini telah dapat diproduksi sendiri oleh petani, biaya untuk pupuk kompos akan lebih hemat lagi. Secara lengkap besarnya pembiayaan untuk pengadaan pupuk tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Penggunaan pupuk dan nilainya per hektar. Sembalun 2003

Uraian Harga Satuan (Rp) Perlakuan A(ditugal) Perlakuan B(ditugal, dikocor) Perlakuan C(disebar, dikocor)
Fisik Nilai (Rp) Fisik Nilai (Rp) Fisik Nilai (Rp)
Ppk kandang (kg) 150 3600 540.000
Kompos (kg) 350 5000 1.750.000 5000 1.750.000 -
Urea (kg) 1250 150    187.500 - 75 93.750
ZA (kg) 1150 300    345.000 - 270 310.500
SP36 (kg) 2000 200    400.000 - 375 750.000
KCl (kg) 2200 150 330.000 - 200 440.000
NPK (kg) 3000 - 450 1.350.000 600 1.800.000
KNO3 (kg) 4500 - - 80 360.000
Jumlah     2.962.500   3.100.000   4.294.250
Efisiensi     31%   28%   0%

Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa teknologi introduksi (perlakuan A dan B) lebih efisien dari pada teknologi petani (perlakuan C). Perlakuan A mencapai efisiensi 31% dari perlakuan C, sedangkan perlakuan B dapat mencapai efisiensi 28% dari perlakuan C. Rata-rata efisiensi pembiayaan pupuk dengan menggunakan teknologi anjuran/introduksi dapat mencapai 29,5%.

Analisis usahatani kajian ini (Tabel 4) menunjukkan bahwa teknologi petani (perlakuan C) yang populasinya mencapai 16.720 tanaman/ha membutuhkan biaya produksi sebesar Rp 21.354.250,- sehingga biaya produksi per pohonnya mencapai    Rp 1.277,20 /pohon. Dengan produktivitas sebesar 11.186 kg/ha, titik impasnyaberada pada tingkat harga sebesar Rp 1.909,-. Sedangkan teknologi introduksi tampak lebih hemat dan efisien hanya membutuhkan biaya berkisar Rp 17.500.000,- – Rp 18.500.000,-. Perlakuan A dengan populasi 18.330 tanaman/ha membutuhkan biaya sebesar Rp 17.512.500,- memperoleh hasil 16.720 kg/ha mampu menurunkan biaya produksi per pohon menjadi Rp 955,-/pohon dan tititik impasnya mencapai tingkat harga Rp 1.067,-/kg cabai merah.

Sedangkan perlakuan B dengan populasi 17.259 tanaman/pohon membutuhkan biaya sebesar Rp 18.355.000,- dan produktivitas 13.048 kg/ha mampu menekan biaya per pohon pada tingkat biaya Rp 1063,50/pohon dan titik impasnya pada tingkat harga Rp 1407,-/kg cabai merah. Dengan demikian tampak bahwa tingkat harga cabai merah pada saat panen minimal Rp 2.000,- dan pada tingkat harga kurang dari Rp 2000,- akan mendatangkan kerugian besar di pihak petani sebagai produsen. Sedangkan perlakuan B dengan populasi 17.259 tanaman/pohon membutuhkan biaya sebesar Rp 18.355.000,- dan produktivitas 13.048 kg/ha mampu menekan biaya per pohon pada tingkat biaya Rp 1063,50/pohon dan titik impasnya pada tingkat harga Rp 1407,-/kg cabai merah. Dengan demikian tampak bahwa tingkat harga cabai merah pada saat panen minimal Rp 2.000,- dan pada tingkat harga kurang dari Rp 2.000,- akan mendatangkan kerugian besar di pihak petani sebagai produsen.

Tabel 4. Analisis usahatani cabai merah. Sembalun 2003

Perl Prod/ha (kg/ha) Biaya Produksi Penerimn kotor (Rp) Pendapatn (Rp) Titik Impas (Rp)
Saprodi (Rp) Tenaga Kerja (Rp) Total  (Rp) Per phn (Rp)
A 16.416 12.512.500 5.000.000 17.512.500 955,4 32.832.000 15.319.500 1067
B 13.048 12.770.000 5.585.000 18.355.000 1063,5 26.096.000 7.741.000 1407
C 11.186 15.174.250 6.180.000 21.354.250 1277,2 22.372.000 1.017.750 1909

Catatan : Harga minimal cabai :Rp 2000.-/kg

Kesimpulan

  • Efisiensi penggunaan pupuk merupakan salah satu langkah alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan usahatani.
  • Efisiensi biaya produksi dapat dicapai dengan penerapan teknologi introduksi/ anjuran secara baik.
  • Guna menjaga dan melestarikan sumberdaya lahan agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan perlu upaya mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menambah penggunaan pupuk alami/organik.

DAFTAR  PUSTAKA

Basuki, R.S. 1988. Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Cabai Merah (Capsicum annuum, L) di desa Kemurang Kulon, Kabupaten Brebes. Bull. Penel. Hortikultura  XVI (2).  115-121.

Duriat, A.S., T.A. Soetiarso, L. Prabaningrum dan R.Sutarya, 1994. Penerapan Pengendalian Hama Penyakit Terpadu pada Budidaya Cabai Merah. Balai Penelitian Hortikultura, Lembang, 30 hal.

Lukmana, A. 1995. Agroindustri Cabai Selain untuk Keperluan Pangan. Dalam : Cabai. Penebar Swadaya : 2 –13.

Pasandaran, E., dan P.U. Hadi, 1994. Prospek Komoditas Hortikultura di Indonesia. Dalam : Kerangka Pembangunan Ekonomi. Prosiding Raker Puslitbang Hortikultura di Solok 17 –19 Nop 1994 : 65-96.

Soetiarso, T.A. Nurmalinda, N. Sumarni dan Suwandi, 1994. Evaluasi Usahatani Cabai Merah pada Lahan Kering di Rembang. Bull Penel. Hortikultura Vol XXVI (4) : 42-50.

Soetiarso,T.A., 1996. Usahatani dan Pemasaran Cabai Merah. Dalam : Duriat,A.S. dkk (penyunt) Teknologi Produksi Cabai Merah p: 85-101. Balitsa,  Lembang. 113 hal